Posted by: gecor | 3 June, 2009

13 Tahun di Pulau Borneo

malaysia_borneo_sarawak12_p

Tanggal 1 Juni 2009 ini bertepatan dengan 13 tahun kami sekeluarga berdomisili di pulau Borneo tepatnya dikota Balikpapan. Tentu banyak pengalaman yang sudah dialami selama  jangka waktu 13 tahun ini.

Tanggal 1 Juni 1996 kami dan istri pada saat itu sedang hamil 6 bulan memenuhi panggilan tugas kantor mutasi ke Kota Balikpapan  setelah melaksanakan pendidikan di STT-Telkom di Bandung selama 2 tahun. Pada awal kedatangan di Kota Balikpapan tentunya jauh dari kesan ramai dan gemerlap seperti Kota Bandung. Jalan didepan kantor sempit dan sepi dari lalu lalang kendaraan umum.

Komplek perumahan di Balikapapn saat itu ada 3 yaitu Komplek Balikpapan Baru, Komplek Bukit Damai Indah, dan Komplek Bumi Citra Damai yang menjadi tempat tinggal seluruh pegawai tempat kami berkerja. Di komplek perumahan kami masih dikelilingi hutan pada saat musim kemarau selalu terjadi kebakaran hutan. Bila terjadi kebakaran hutan praktis harus siaga dirumah masing-masing untuk menghindari api tidak merambat ke rumah. Bisa dibilang saat awal berdomisili di Kota Balikpapan pengalaman penuh dengan cobaan dan melatih kesabaran.

Cobaan dan kesabaran tentu saja tidak hanya permasalahan kebakaran hutan tersebut. Juga ketersedian Air Minum dan Mandi. Bila Air minum 100% harus beli Aqua Galon utk kebutuhan sehari karena Air di Balikpapan walaupun sudah diolah di PDAM masih was-was untuk dikonsumsi untuk minum. Bila untuk mandi bolelah. Pengalaman yang paling dikenang sampai sekarang tentang Air ini tentunnya pada saat musim kemarau panjangan tahun 1997. Kita penghuni Komplek BCD harus antri untuk mendapat Air untuk mandi dari pagi sampai kadang-kadang sampai Subuh. Puncaknya tentu saja tahun 1997 tersebut terjadi resesi ekonomi yang menyebabkan keterbatasan sandang dan pangan. Bahkan bunga bank saat itu mencapai 40%-60% per tahun. Luar biasa, uang banyak tapi barang tidak ada.

Dari tahun ke tahun tak terasa 13 tahun sudah berlalu. Khusus Kota Balikpapan tentu saja tahun 2009 ini sudah banyak berubah. Bangunan tinggi untuk Plaza dan Apartemen sudah menjamur. Tentu saja menggambarkan Kota yang memiliki jargon “Kubangun Kujaga dan Kebela” kemajuan ekonominya sangat pesat dan  sudah merubah wajahnya mengarah ke kota Metropolitan. Namun satu hal yang mungkin masih menjadi kendala kota ini yaitu Listrik yang sering mati sehingga jangan heran bila Genset menjadi perangkat primer masyarakat Balikpapan.

Bagi kami sendiri pengalaman bekerja di Balikpapan walaupun tidak pernah pindah dikota lain di Kalimantan tentunya juga banyak liku-likunya. Mulai menjadi Teknisi Mfos pengendalian Telekomunikasi Regional, menjadi Sekretaris Deputy & Kepala Regional, manajerial Teknik Transmisi, manajerial di Network Control, manajerial di Jaringan Akses, sampai manajerial di Unit Billing & payment/Collection sampai sekarang.

Tentunya dalam menjalankan tugas tersebut juga melakukan kunjungan-kunjungan di kota di Borneo seperti di Samarinda(>10x),Tenggarong(3x),Sanggata(2x),Tanah Grogot(3x),Banjarmasin(>8x),Pulang Pisasu(2x),Kandangam(3x),Banjarbaru(>3x),Palankaraya(>5x),Pontianak(>4x),Sanggau(2x),Sintang(1x),Balaikarangan(2x),Kucing(2x),Nunukan(3x),Derawan(3x),Tarakan(>4x),Berau(3x), dan banyak lagi yang lainnya.

Khusus untuk makanan tentu saja banyak makanan dari menu daerah lain yang dijual di Kota Balikpapan. Seperti Soto Banjar, Rawon, Pecel Tulungagung,Pecel Pincuk,Sea Food,Soto Makasar, dan banyak lagi. Dari sekian banya menu tersebut bagi kami tidak menjadi kendala untuk menikmatinya dan tentunya syarat utama menu jangan diberi gula alias Menu Makanan yang manis-manis.

Akhirnya kami selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat Rezki, nikmat kesehatan, nikmat Anak/Istri  yang Soleh & Soleha, nikmat Karir, dan nikmat2 lainnya. Semoga Allah SWT selalu melindungi kami sekeluarga. 13 Tahun di Pulau Borneo.


Responses

  1. Salam kenal, tak sengaja menemukan blog anda, saya jadi tertarik untuk memberikan comment.
    Saya sejak kecil tinggal di Balikpapan, yah kira-kira 16 tahun lah, dan 9 tahun lebih saya lewatkan sekarang di Pontianak. Anda wajib bersyukur sekali, karena kondisi seperti yg anda sebutkan saat awal datang ke Balikpapan sangat memprihatinkan, sebab kondisi Pontianak yg sekarang saya tinggali adalah seperti awal yg anda tulis. Air PDAM tidak bisa digunakan untuk minum karena mengandung merkuri sangat tinggi akibat penambangan liar (saat thn 1997 di daerah saya di Bpp kami minum pakai air PDAM, mgkn lokasi tempat tinggal anda memang agak jelek air PDAM nya).
    Air tanah di Pontianak tidak bisa digunakan juga karena mengandung asam yg juga tinggi, satu-satunya harapan adalah air hujan atau air galon.
    Saat kemarau selalu terjadi kebakaran ladang dan hutan yg disengaja oleh penduduk setempat, jadi penyakit ISPA sudah tidak heran lg.
    Semua itu terjadi pd kondisi sekarang lho, dan entah kapan akan berubah.
    Jadi bersyukurlah jika masih tinggal di Balikpapan, dari pada di Pontianak.
    Salam.

    • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.Tentunya kami tetap sangat bersyukur tinggal di Balikpapan.Permasalahan yang di Pontianak sama dengan kota-kota lain Non Kaltim yaitu permasalahan Air Bersih dan Asap. Saya sering minimal 1(satu) kali per tahun untuk dinas kantor ke Pontianak, dan pernah merasakan jarak pandang hanya 1(satu) meter perjalanan dari Hotel ke Bandara karena asap. Semoga permasalahan ini cepat berlalu. Salam


Leave a response

Your response:

Categories